Tags

, , , ,

asuransi jiwa penyakit kritis

Aset dan uang anda bukanlah milik dokter, mari berasuransi. biarkan perusahaan asuransi yang membayarnya

Rumah satu-satunya telah dijual Akhdiat Suryawan (48 tahun) untuk membiayai pengobatan anaknya, Faizal Darmawan (14 tahun), yang menderita tumor otak yang merupakan penyakit kritis.
Penghasilan Akhdiat sebagai guru olah raga di SD Negeri 02 Pondok Kopi, Jakarta Timur, tetap tak cukup membiayai pengobatan anaknya yang begitu besar.
Inilah ironi yang dihadapi Akhdiat. Sebagai guru, dia memiliki penghasilan yang memadai, hampir Rp 8 juta per bulan. Namun, dia tetap tak berdaya saat
dihadapkan pada biaya pengobatan anaknya yang sangat besar. Biaya yang harus disediakan untuk biaya berobat mencapai Rp 120 juta.
Sebagai pegawai negeri sipil, Akhdiat memang memperoleh Asuransi Kesehatan (Askes) dan Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK). Namun, besaran biaya
pengobatan yang ditanggung kedua jenis jaminan kesehatan itu pun ada batasnya.
Dari total biaya pengobatan untuk Faizal lebih dari Rp 120 juta, hanya sekitar Rp 70 juta yang ditanggung dua jaminan kesehatan itu. Sisanya ditanggung sendiri
Ayah lima anak itu pernah mencoba mencari keringanan biaya pengobatan melalui Kartu Jakarta Sehat (KJS), tetapi ditolak saat mengurus KJS di tingkat
kecamatan, karena penghasilannya sebagai guru dianggap cukup memadai.
Sekarang, Akhdiat harus segera menyiapkan dana lagi tak kurang dari Rp 120 juta untuk terapi lanjutan bagi anaknya. Namun, dia mengaku sudah tak punya
dana lagi karena tabungannya terkuras untuk biaya operasi dan terapi Faizal pada Agustus lalu.
“Simpanan kami tinggal Rp 20 juta dan itu pun masih menunggu pelunasan dari orang yang membeli rumah kami. Kami sih berharap, orang itu bisa segera
melunasinya supaya kami bisa segera membeli obat bagi anak kami,” kata Akhdiat, Rabu, 30 Oktober 2013.
Akhdiat mengatakan, rumah satu-satunya itu dijual dengan harga Rp 50 juta. Rumah itu berada di kawasan Pondok Gede, Bekasi. Semestinya, kata Akhdiat,
rumah itu bisa laku Rp 100 juta. Namun, karena dia tak ingin pengobatan untuk anaknya terputus, Pak Guru dan istrinya, Ida Dartimah (40 tahun), memutuskan
menjual rumahnya dengan harga murah asal cepat laku.
“Itu pun baru dibayar separuh oleh pembelinya, karena kami butuh dana besar segera,” ujarnya.
Kabar mengagetkan tentang anaknya itu kira-kira diterima Akhdiat pada Maret tahun lalu. Saat itu Akhdiat memperoleh hasil diagnosis dari dokter bahwa anaknya,
Faizal, menderita tumor otak jenis astrocytoma. Tumor itu tumbuh akibat munculnya gumpalan darah di bagian kepala.

TRAUMA KEPALA

Faizal mengaku pernah mengalami trauma pada kepalanya sekitar tahun 2011. Saat itu dia sedang naik angkutan umum dan kepalanya terkena lemparan batu

datangnya dari kelompok remaja yang nongkrong di pinggir jalan.
“Saat itu memang terasa pusing, tetapi berangsur hilang,” katanya.
Baru pada Mei tahun lalu, kata Faizal, kepalanya terasa nyeri dan dia menderita muntah-muntah. Oleh dokter di klinik, ia dianggap terkena serangan tifus.
Kondisinya pun berangsur pulih setelah diberi obat, sehingga Faizal bisa menjalani ujian nasional SMP dan memperoleh nilai 33,5, yang berarti rata-rata 8 untuk
keempat mata pelajaran yang diujikan.
Namun, pada Maret, kesehatan Faizal kembali turun hingga tidak sadarkan diri. Setelah diperiksa di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, ditemukan indikasi tumor
pada otak. Faizal dirujuk ke Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat, dan di rawat beberapa minggu. Akhdiat mengatakan, biaya perawatan Faizal di Rumah Sakit
Dharmais sepenuhnya ditanggung Askes.
Namun, lonjakan biaya pengobatan kemudian muncul saat Faizal mulai menjalani operasi dan terapi pengobatan pada Agustus. Menjelang operasi, Faizal harus
menjalani pemeriksaan kepala dengan MRI sebesar Rp 21 juta yang ditanggung oleh Askes. Kemudian, operasi sebesar Rp 30 juta yang ditanggung oleh JPK
Askes.
Kuota JPK Askes yang diperoleh Akhdiat Rp 50 juta untuk setiap anggota keluarga yang ditanggung. Kuota JPK bagi Faizal setelah menjalani operasi pun tinggal
Rp 20 juta. Padahal, setelah operasi, Faizal masih harus menjalani terapi sinar dan obat yang memakan biaya hampir Rp 80 juta.
Selama terapi pasca operasi, untuk obatnya saja menghabiskan dana Rp 70 juta untuk 46 tablet Temodal. “Untuk obat, akhirnya hanya Rp 20 juta yang
ditanggung JPK, sisanya kami tanggung sendiri,” katanya.

JUAL RUMAH

Praktis, sejak kuota JPK untuk Faizal habis, pembelian obat sebesar Rp 50 juta lagi harus ditanggung Akhdiat. Sebagian bisa ditutupi dari hasil penjualan rumah.
Namun, pembeli rumah baru membayar Rp 30 juta, sehingga Akhdiat harus mencari tambahan Rp 20 juta lagi dengan mengutang kepada kerabat dan beberapa
orang tua murid.
Pengobatan Faizal belum berhenti di situ. Menurut ibunya, Ida Dartimah, Faizal harus menjalani terapi lanjutan pada 6 November. Karena kuota JPK untuk Faizal
sudah habis, kata Ida, dokter di Rumah Sakit Dharmais telah mengingatkan agar segera disiapkan dana pengobatan sebesar Rp 130 juta.
Ida mengatakan, entah bagaimana caranya, dia akan sekuat tenaga memenuhi semua biaya pengobatan lanjutan untuk anak ketiganya itu. Kemungkinan besar
dia akan menjual mobilnya yang diperkirakan laku dijual Rp 50 juta, ditambah pelunasan dari penjualan rumah sebesar Rp 20 juta.
“Tetapi, jual mobil juga butuh waktu. Mudah-mudahan bisa segera laku. Untuk menutupi kekurangan Rp 60 juta lagi, nanti akan kami pikir lagi,” ujarnya.
Akhdiat mengatakan, sejak satu-satunya rumah miliknya dijual, dia tak lagi memiliki rumah. Namun, beruntung pengelola SD Negeri 02 Pondok Kopi memberikan
kesempatan bagi keluarganya menempati rumah dinas guru.
Hanya yang dikhawatirkan Akhdiat, sejak menjalani operasi, mata kiri Faizal mengalami kebutaan. Penglihatan mata kanan Faizal juga berangsur turun, sehingga
saat ini penglihatannya kabur.
“Kami sudah diberi tahu dokter bakal ada efek setelah operasi, salah satunya lumpuh. Rupanya sekarang efeknya baru muncul, penglihatan Faizal jadi
berkurang,” katanya.
Sejak kesehatannya menurun, Faizal sepenuhnya terbaring di rumah. Dia tak mampu berjalan jauh karena mudah pusing dan penglihatannya berangsur
menurun. Akibatnya, dia tak melanjutkan sekolah.
“Penginnya sih sekolah, tetapi seperti ini mana bisa,” ujar Faizal yang pernah masuk dalam tim sepak bola U-12.
(Sumber: KOMPAS, Kamis, 31 Oktober 2013)

Anda sangat nekat, hidup tanpa memiliki asuransi jiwa. sudah siapkah jika dokter meminta Rp 500jt – 1M hari ini untuk biaya pengobatan akibat penyakit yang bapak/ibu derita ??? atau mungkin pertanyaan ini, apa yang bapak/ibu berikan kepada keluarga jika anda si pencari nafkah harus pindah dunia ??? Klik disini untuk mengetahui manfaat perlindungan dari asuransi jiwa dan kesehatan Allianz